Catatan Aru #1 : Memulai Perjalanan ke Timur

Pada akhirnya aku memilih untuk membagi cerita dan informasi yang aku dapatkan..

Cerita ini sebagian besar aku alami sendiri dan selebihnya merupakan informasi umum yang bisa kalian cari sendiri. Aku juga berfikir, pasti dari kalian banyak yang belum tahu. Aku ingin bercerita soal pengalamanku mengunjungi salah satu daerah di timur Indonesia.

Ya, Kepulauan Aru, suatu tempat yang indah dan memberikan banyak pelajaran hidup. Mendengar namanya saja begitu asing bagiku ketika awal tahu soal wilayah ini. Mungkin juga sama ketika teman-teman membacanya dari tulisanku ini.

Faktanya, Indonesia punya tempat dimana satu wilayah memiliki 700-an lebih gugusan pulau kecil. Tempat tersebut bernama Kepulauan Aru atau dalam bahasa lokal disebut Jargaria. Seperti namanya, Kepulauan Aru terdiri dari gugusan pulau-pulau yang saling keterkaitan sehingga menjadi kesatuan Kepulauan.

Aru

Letak wilayah ini tepat di bawah leher pulau Papua, di sebelah tenggara dari kepulauan Maluku Seram. Tapi jangan salah, secara administratif wilayah Aru masuk ke dalam Provinsi Maluku. Walaupun secara bioregion aku mengetahuinya masih termasuk dalam region New Guinea (Papua).

Yang sering keliru dari kebanyakan orang adalah menganggap bahwa kepulauan Aru merupakan satu daratan pulau besar. Pasti kalian nganggapnya juga begitu ketika melihat Gambar 2.

Tapi jangan salah lagi, Ia merupakan gugusan kepulauan kecil yang hanya dipisahkan antar selat kecil yang terkadang disalah artikan sebagai sungai. Faktanya itu selat lho. Airnya asin dan dipengaruhi pasang surut. (Gambar 3 dan 4)

Awal ke Aru sekitar tahun 2016. waktu itu, aku diberi kesempatan untuk melakukan riset karst dan gua di Kepulauan Aru. Itu pertama kalinya aku melakukan perjalanan ke Timur. Akses menuju Aru bisa ditempuh lewat udara dari Ambon. Sekitar dua jam terbang menggunakan pesawat ATR yang jadwalnya hanya sekali dalam satu hari.

Semua destinasi dari luar menuju Aru baik laut maupun udara akan singgah di Dobo. Dobo adalah pusat keramaian sekaligus pemerintah. Ia berada di satu pulau sendiri yaitu pulau Warmar.

Ketika di Aru, transportasi yang bisa kamu gunakan untuk mengunjungi kampung-kampung adalah transportasi laut. Ya, karena berupa pulau-pulau kecil, transportasi laut menjadi kunci akses masyarakat.

Bisa dibayangkan, waktu itu kami berencana mengunjungi beberapa lokasi di antar pulau berbeda sehingga kami banyak menghabiskan waktu di atas kapal kecil berukuran sekitar 5 GT (Gambar 4).

Jangan tanya aku, pastinya sangat senang karena bisa mengemudikan kapal. Walaupun teman-teman timku sedikit khawatir, ketika aku pegang kemudi, kami hampir menubruk masyarakat yang sedang menggunakan sampan.

To be continue….

Catatan Aru #1 : Memulai Perjalanan ke Timur
Tagged on:     

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *