Catatan Baru : Udang Purba Stenasellus di Karst Ciampea, Bogor

Lorong Gua Sipanjang di Karst Ciampea, Bogor

Era kekinian, dalam berkegiatan di alam bebas tidak hanya mencari kesenangan. Namun, berkegiatan di alam dengan nilai-nilai keilmuannya, ini disebut Scientific Adventure. Saat ini, eksplorasi gua di Indonesia banyak dilakukan oleh peneliti, pecinta alam, dan organisasi di bidang speleologi. Salah satu hasil eksplorasi gua adalah bertambahnya data atau penemuan baru fauna gua yang bermanfaat dalam dunia ilmiah. Seyogianya, kekayaan ini dapat mempengaruhi kebijakan untuk pelestarian karst yang menjadi habitat fauna tersebut.

Minggu, 08 April 2018 saya dan tiga anggota Pecinta Alam Lawalata IPB kembali menemukan udang purba Stenasellus saat eksplorasi Gua Sipanjang yang masuk dalam kawasan Karst Ciampea, Bogor. Setelah sebelumnya pada Desember 2017 ditemukan untuk yang pertama kalinya di kawasan yang sama yaitu di Gua Sigeulis, kali ini hewan gua yang dianggap purba itu di temukan juga di Gua Sipanjang. Penemuan Stenasellus di Karst Ciampea menjadi catatan baru karena belum pernah ada yang menemukan spesies tersebut.

Mengenal Hewan Gua Stenasellus

Udang purba Stenasellus yang ditemukan di Karst Ciampea

Gua merupakan ekosistem yang menyimpan kekayaan fauna unik dan endemik (hanya ada di daerah tersebut). Lingkungan gua yang terisolasi dari cahaya sinar matahari membuat setiap makhluk hidup didalamnya mampu beradaptasi dengan ekstrim seperti mengevolusi bentuk dan pigmen tubuhnya.

Udang purba Stenasellus merupakan salah satu hewan yang masuk kelompok anggota krustasea dari bangsa isopoda. Hewan ini tergolongan primitif karena sampai saat ini nenek moyang Stenasellus masih ada yang hidup di perairan air asin. Namun, beberapa spesies endemik gua, telah mengalami adaptasi yang cukup ekstrim sampai dapat hidup di air tawar (Rahmadi, 2018).

Secara visual, ciri fisik udang purba Stenasellus berwarna merah muda. Ukuran tubuh cukup kecil kira-kira seujung kuku manusia atau sekitar 5-7 milimeter. Jika dilihat lebih detail, akan ditemui bentuk tubuhnya yang berbuku-buku. Udang purba Stenasellus berjalan menggunakan kaki yang terletak diantara ruas tubuhnya.

Persebaran udang purba Stenasellus di dalam gua sangat terbatas. Sampai saat ini, Stenasellus yang telah ditemukan hidup di air yang tidak mengalir atau di air yang mengalir lambat. Hewan merah jambu ini ditemukan pada kolam-kolam yang berbentuk air perkolasi (air yang menetes pada ornamen gua).di dalam gua. Selain itu, kerap juga ditemukan pada bekas injakan kaki manusia yang terdapat air di dalamnya.

Untuk wilayah Jawa Barat, penyebaran udang purba Stenasellus baru ditemukan di tiga lokasi yaitu karst Citeureup, Gunung Walat dan Buniayu. Cahyo Rahmadi (Peneliti LIPI) menyatakan bahwa Stenasellus yang ditemukan di Ciampea diduga berbeda subspesies dengan yang ada di Citereup dan tempat lainnya karena faktor pemisahan geografi. “Perumpamaan seperti hal-nya Harimau Jawa dengan Harimau Bali, hanya dipisahkan oleh Selat Bali mereka berbeda spesies” ujarnya dalam diskusi di IPB, Maret 2018.

Menjaga Habitat Udang Purba

Penelitian mengenai udang purba Stenasellus di Indonesia masih sangat jarang. Pada area Pulau Jawa, Stenasellus pertama kali ditemukan pada tahun 2004 di Gua Cikarae, Desa Leuwikaret, Kecamatan Klapanunggal, Bogor oleh Cahyo Rahmadi bersama tim pecinta alam Lawalata IPB. Isopoda khas gua itu diberi nama Stenasellus javanicus oleh Dr. Cahyo Rahmadi dan Dr. Guy Magniez (RIP) pada tahun 2006.

Vandalisme di dalam Gua Sipanjang

Populasi dan persebaran Stenasellus yang sangat terbatas menjadikan hewan ini sangat rentan terhadap ancaman. Ditambah lagi belum ada informasi mengenai biologi spesies tersebut. Salah satu ancaman serius adalah aktivitas penelusuran gua yang minim pengetahuan. Lokasi tempat hidup spesies ini sangat rawan terinjak oleh penelusur gua. Oleh karena itu, penting bagi penelusur gua untuk memahami dan memperhatikan saat menapaki lantai gua. Banyak fauna gua dengan ukuran mikro yang tanpa disadari itu dapat terinjak.

Selain itu, ancaman datang dari aktivitas penambangan kapur di sekitar gua. Sampai saaat ini, aktivitas penambangan kapur masih terus berlangsung di Karst Ciampea. Getaran yang dihasilkan dari pemboman batu kapur dapat menyebabkan runtuh dan hancurnya gua yang menjadi habitat Stenasellus. Semoga penemuan ini mampu membangkitkan pemangku kepentingan untuk peduli terhadap Karst Ciampea, karena sejatinya karst adalah laboratorium ilmu pengetahuan untuk dilestarikan.

Penulis

Aziz Fardhani Jaya

dan Ahmad Juang S

Catatan Baru : Udang Purba Stenasellus di Karst Ciampea, Bogor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *