Gunung Guha : Antara Karst, Wisata Alam dan Eksploitasi Tambang

kondisi lorong gua Sibibijilan (Foto: Azizfardhani)

Pengelolaan ekosistem karst perlu pendekatan kehati-hatian. Sifat karst yang unik karena berkembangnya sistem perguaan dan aliran sungai bawah tanah sangat rentan terhadap perubahan lingkungan. Apa yang ditetapkan diatasnya (baca: pemanfaatan), bisa jadi memiliki keterhubungan dengan wilayah di sekitarnya. Oleh karena itu, riset mengenai ekosistem karst perlu untuk terus dilakukan. Selain menambah kekayaan informasi kawasan karst, juga berguna sebagai bahan masukan untuk pengelolaan yang lebih baik.

Pada Desember 2020 lalu, kelompok pecinta alam Lawalata IPB melakukan kegiatan eksplorasi potensi ekosistem karst di Daerah Karst Gunung Guha, Desa Tanjung Sari, Jampang Tengah, Sukabumi. Kegiatan yang berlangsung selama lima hari itu melakukan pendataan sebaran gua dan mata air, serta melakukan penelusuran dan pemetaan gua.

Karst Gunung Guha terbentang dari selatan ke utara mencakup di dua kecamatan yaitu Jampang Tengah dan Nyalindung. Bentang alam karst ini merupakan bagian dari formasi karst Bojonglopang yang memiliki luas sekitar 7.639 hektar. Formasi batugamping yang diperkirakan memiliki ketebalan lebih dari 400 meter ini, berumur geologi Miosen Tengah atau sekitar 15 -11,2 juta tahun lalu (Sukamto dan RAB 1975)[1].

Lanskap karst yang berupa perbukitan dengan ketinggian 500-700 mdpl dengan batugamping yang tebal telah menyebabkan terjadinya proses karstifikasi yang berkembang cukup baik. Hal ini ditandai dengan ditemukannya morfologi eksokarst seperti dolina (cekungan tertutup), ponor, telaga dan mata air. Selain itu, perkembangan morfologi karst yang baik ini juga berbanding lurus dengan perkembangan endokarst yaitu ditemukan gua-gua yang memiliki beragam ornamen yang masih meneteskan air dan membentuk sungai bawah tanah[2].

Di sisi lain, Karst Gunung Guha telah menopang kehidupan bagi para pihak yang mengambil manfaat darinya. Yang teramati, aktivitas pemanfaatan yang ada di Karst Gunung Guha cukup beragam. Mulai dari  pemanfaatan sumber daya air gua untuk kebutuhan rumah dan pengairan sawah, penggunaan lahan untuk kebun masyarakat, pemanenan tumbuhan untuk pakan ternak, aktivitas wisata alam dan minat khusus penelusuran gua. serta di sebelah utara terdapat aktivitas penambangan batugamping.

Namun, manakah aktivitas pemanfaatan kawasan karst yang lebih berkesinambungan baik dari aspek ekonomi maupun lingkungan untuk masyarakat sekitarnya ?

Gua, keanekaragaman hayati dan potensi sumber daya air karst

Ford dan Williams (1989) mendefinisikan karst sebagai medan dengan kondisi hidrologi yang khas sebagai akibat dari batuan yang mudah larut dan mempunyai porositas sekunder yang berkembang baik[1]. Kawasan karst memiliki fungsi sebagai reservoir (tandon) air sekaligus menyimpan keanekaragaman hayati dengan tingkat endemisitas yang tinggi.

Dalam kajian ekplorasi, sedikitnya ada 7 gua dan 1 mata air yang berhasil teridentifikasi di sekitar Karst Gunung Guha. Bentukan morfologi karst lainnya seperti dolina dan ponor juga ditemukan. Itu belum mencakup seluruhnya. Berdasarkan informasi yang dikumpulkan dari warga, di area yang sedang di tambang dan di kampung Nagrak (sebelahnya kampung Rawaseel) juga ditemukan beberapa gua dan mata air.

Karakteristik gua-gua yang ditemui memiliki lorong yang bervariasi antara vertikal dan horizontal. Secara umum, mulut gua terletak di area lembahan/ dolina dan sebagian terletak di punggung bukit. Gua-gua yang ditemui didalamnya terdapat berbagai ornamen gua (speleotem) seperti stalaktit, stalakmit, gourdam, flowstone dan sodastraw yang masih meneteskan air perkolasi. Bahkan di beberapa gua  terdapat sungai bawah tanah yang mengalir cukup deras.

aliran sungai bawah tanah di dalam gua Legok Picung (Denny Bhatara)

Gua Legok Picung merupakan salah satu gua yang didalamnya terdapat aliran sungai bawah tanah. Gua dengan panjang lorong terpetakan sekitar 465 meter memiliki keunikannya tersendiri. Beberapa bagian lorong gua memiliki atap lima kali lebih tinggi dibanding lebar lorongnya. Lorong gua ini bercabang dan pada lorong utama di aliri air. Berdasarkan arah lorong gua, air di Gua Legok Picung berasal dari sebelah Selatan-Barat daerah di atasnya dan mengalir ke arah Utara-Timur. Air di gua ini diduga sebagian keluar di mata air Sumur Salada yang berjarak sekitar 315 meter di sebelah utara daerah bawahnya.

Selain itu, Gua legok Picung menjadi habitat hidup bagi fauna gua. Berdasarkan pengamatan, fauna yang ditemui di gua ini cukup beragam. Pada zona remang (terang-peralihan gelap), dapat ditemui seperti Ular Sanca (Python reticulatus), Katak, Kecoa dan Kelelawar. Pada zona gelap, fauna yang dapat ditemui seperti Jangkrik (Rhaphidophoridae), Kaki seribu (Diplopoda), laba-laba, kelelawar serta fauna akuatik (ikan dan kepiting). Sedangkan pada zona gelap total fauna yang ditemui yaitu Ikan, Amblypygi, Jangkrik (Rhaphidophoridae), dan Udang purba Stenasellus.

Menurut ahli biologi gua LIPI Cahyo Rahmadi, sistem perguaan yang panjang dan gelap menjadi habitat yang sangat khas. Lingkungan yang gelap total serta kelembapan yang tinggi dan rentang suhu yang sangat sempit menyebabkan beberapa spesies fauna yang hidup mempunyai kemampuan adaptasi dan berevolusi ke bentuk yang sangat unik dan bahkan aneh[2].

Salah satu contoh spesies yang telah beradaptasi ekstrim dengan lingkungan gua adalah udang purba Stenasellus. Isopoda ini tergolongan primitif karena sampai saat ini nenek moyang hewan ini masih ada yang hidup di perairan air asin. Namun, beberapa spesies endemik gua, telah mengalami adaptasi yang cukup ekstrim sampai dapat hidup di air tawar (Rahmadi, 2018).

Persebaran udang purba Stenasellus di dalam gua sangat terbatas. Bahkan penyebaran hewan ini di Jawa Barat baru ditemukan di 4 lokasi yaitu Bogor (karst Citeureup dan Cibodas-Ciampea) dan Sukabumi (Gunung Walat dan Buniayu). Temuan udang Purba Stenasellus di Gua Legok Picung Karst Gunung Guha menjadi catatan baru penyebaran Stenasellus di Jawa Barat.

Udang Purba Stenasellus di Gua Legok Picung (Foto Denny Bhatara)

Lain hal dengan Gua Sibibijilan. Gua ini memiliki aliran sungai bawah tanah yang keluar melewati mulut gua. Aliran air yang cukup deras membuat potensi bahaya banjir pada gua ini cukup tinggi. Gua Sibibijilan mempunyai bentuk lorong horizontal dan memiliki satu mulut gua lainnya yang berbentuk vertikal. Pada ujung lorong gua berupa sump atau lorong yang tertutup oleh air dan merupakan sumber aliran sungai. Panjang lorong gua yang terpetakan sekitar 353,5 meter dan masih berpotensi lebih panjang lagi.

Karst Gunung Guha merupakan daratan tertinggi dibanding wilayah sekitarnya. Di bawahnya banyak bermukim perkampungan masyarakat yang mengelilingi wilayah perbukitan ini sampai ke batas sungai Cimandiri di bagian barat laut sana. Pada kaki perbukitan ini tersebar lahan pertanian padi sawah dan huma milik masyarakat. Tidak heran, air yang mengalir ke ladang dan perkampungan berasal dari perbukitan karst ini.

Seperti hal nya air yang keluar dari gua Sibibijilan membentuk sungai yang mengarah ke kampung Rawaseel di bawahnya. Air dari gua ini dimanfaatkan masyarakat untuk pengairan sawah dan kebutuhan air rumah. Hal ini dibuktikan banyaknya pipa-pipa yang dipasang di mulut gua. Pipa tersebut mengarah ke rumah-rumah warga di bawahnya. Selain itu, masyarakat juga telah membuat irigasi untuk mengalirkan air ke lahan-lahan pertaniannya di sisi bukit sebelahnya.

Wisata Alam Situ Cipiit

Situ Cipiit merupakan perwujudan sebuah telaga karst yang terbentuk pada cekungan tertutup (dolina) yang cukup luas. Telaga dengan luas sekitar 12.865 m2 ini memiliki debit air yang cukup stabil. Menurut masyarakat, air di Situ Cipiit belum pernah kering. Adapun ketika musim kering, air memang menyusut tapi tidak sampai terlihat dasarnya.  

Saat ini, Situ Cipiit dan kawasan sekitarnya telah menjadi sebuah objek wisata alam. Ketika akhir pekan tiba, banyak orang berdatangan dari Sukabumi dan sekitarnya untuk berekreasi di tempat ini. Wisata alam yang dirintis sejak tahun 2017 atas inisiatif kerjasama masyarakat, desa dan Perhutani, menyuguhkan suasana asri berupa pemandangan alam situ (telaga) yang di kelilingi oleh hutan pinus.

Pemandangan situ Cipiit dari Puncak Pandawa (Foto: Azizfardhani)

Tidak hanya itu, para wisatawan juga dapat melakukan kegiatan camping di pinggir situ (telaga). Serta tidak perlu khawatir karena warung-warung yang di tempat wisata ini menyediakan penyewaan alat camping. Selain itu, wisatawan juga bisa melakukan trekking menuju puncak pandawa. Dari puncak bukit tersebut dapat terlihat pemandangan situ (telaga) yang indah.

Untuk wisatawan yang suka berpetualang, Wana Wisata Situ Cipiit juga menyediakan opsi wisata minat khusus penelusuran gua. Wisata minat khusus penelusuran gua wajib didampingi oleh pemandu (guide) dari masyarakat setempat. Selain wisata, Situ Cipiit juga dimanfaatkan masyarakat setempat sebagai tempat memancing ikan dan menjaring udang.

Ancaman Ekspolitasi Tambang

Di kampung sebelahnya yaitu Leuwi Dinding, masyarakat terus mengeluhkan dan melakukan protes terhadap kegiatan penambangan yang dilakukan di Gunung Guha. Dikutip dari berita media lokal, dampak yang dirasakan warga Leuwi Dinding atas aktivitas penambangan membuat rumahnya rusak akibat peledakan (blasting)[1]. Selain itu, kepada media warga Leuwi Dinding juga mengeluhkan kesulitan air bersih karena beberapa sumber mata air yang biasa dimanfaatkannya tidak lagi mengaliri air setelah ada aktivitas penambangan[2].

Kondisi Gunung Guha saat ini juga terdapat aktivitas penambangan batugamping. Kegiatan penambangan dilakukan oleh PT Tambang Semen Sukabumi (TSS) setelah mengantongi izin usaha pertambangan (IUP) seluas 501 hektar[3] di wilayah Gunung Guha. PT TSS merupakan anak perusahaan dari PT Siam Cement Group (SCG) yang mendirikan pabrik semen di Desa Sinaresmi. Dua Perusahaan ini sejak 2016 terus diprotes warga karena diduga telah melakukan pencemaran lingkungan[4].

Aktivitas penambangan batugamping di Gunung Guha (Foto : Iqbal)

Selain itu, kegiatan penambangan berdekatan dengan lokasi wisata Situ Cipiit yang hanya dipisahkan oleh satu bukit di sebelah utaranya. Hasil overlay peta konsesi tambang dengan citra satelit menunjukan batas konsesi hanya berjarak sekitar 150 meter dari lokasi wisata.

Secara ekologi, kegiatan pengerukan batugamping akan mengancam kelestarian ekosistem karst. Penambangan di perbukitan karst akan mengurangi simpanan air yang pada akhirnya akan mengurangi debit sungai bawah tanah dan mata air. Proses penambangan akan menyebabkan hilangnya lapisan epikarst sehingga proses karstifikasi tidak dapat terjadi karena air langsung mengalir sebagai aliran permukaan (runoff) (Cahyadi 2017)[5]. Lebih lanjut, menurut Tjahyo N Adji sebagian besar air tersimpan di zona lapisan dekat permukaan karst (epikarst) yang kemudian dialirkan perlahan-lahan menuju sungai bawah tanah dan mata air.

Celakanya, ekosistem gua sebagai drainase alami dan tempat hidupnya biota-biota gua yang memiliki tingkat endemisitas tinggi juga terancam. Hampir sebagian banyak gua yang telah terdata berada di dalam area IUP. Lebih dari itu, gua Legok Picung yang memiliki aliran sungai bawah tanah dan mata air karst Sumur Salada juga masuk di dalamnya.

Dengan temuan yang ada seharusnya karst Gunung Guha dijadikan kawasan lindung. Mengacu pada PERMEN ESDM No 17 Tahun 2012, Karst Gunung Guha seharusnya masuk dalam kriteria yang ditetapkan sebagai Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK). Selain mempunyai fungsi sebagai pengatur alami tata air karena terdapat bentukan ekso dan endokarst, juga telah menyediakan jasa lingkungan bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya. Bahkan bagi akademisi, mahasiswa dan pecinta alam, karst menjadi  laboratorium hidup untuk menyelenggarakan riset dan mengaplikasikan ilmu.

Penulis
Aziz Fardhani Jaya
Pegiat dan Penelusur Gua
Anggota Indonesia Speleological Society


[1] Bom PT TSS Rusak Rumah Warga | radarsukabumi.com

[2] Terdampak Tambang Semen, Warga Leuwidinding Minum Air Selokan (detik.com)

[3] Data Konsesi Tambang Kementerian ESDM, 2018

[4] Warga Sukabumi Keluhkan Dugaan Pencemaran Pabrik Semen Jawa | Republika Online

[5] Cahyadi, Ahmad. (2017). Pengelolaan Kawasan Karst Dan Peranannya Dalam Siklus Karbon Di Indonesia. 10.31227/osf.io/8gh6d.


[1] Ford, D. and Williams, P. 1992. Karst Geomorphology and Hydrology, Chapman and Hall, London

[2][2] Opini: Karst, Habitat Biota Dengan Fungsi Ekologis Penting Yang Harus Dilindungi | Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (lipi.go.id)


[1] RAB & Sukamto. 1975. Peta Geologi Lembar Jampang dan Balekambang.

[2] Catatan hasil temuan penelusuran lapangan

Gunung Guha : Antara Karst, Wisata Alam dan Eksploitasi Tambang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *